Laki-laki setengah baya, dengan kondisi fisik yang renta berbaju
compang-camping itu bernama Sukardi. dia sudah tidak memiliki siapapun di dunia
ini, kedua anaknya yang kembar meninggal dunia sewaktu umur 5 tahun, mereka terserang
penyakit spesial yang hanya diderita oleh kaum tertentu saja yakni busung
lapar, istrinya beberapa tahun yang lalu pergi meninggalkannya dan lebih
memilih untuk menikah dengan laki-laki lain yang lebih kaya, karena merasa sudah
tidak tahan dengan penderitaan yang sehari-hari mereka hadapi. Sukardi yang
sehari-hari bekerja sebagai seorang pemulung ini, hidup dalam keadaan yang
penuh dengan keterbatasan ekonomi, maklum dirinya tidak pernah mengenyam
pendidikan formal, hal itulah yang membuatnya sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain di tengah
lingkungan yang penuh dengan modernisasi berbasis KKN seperti sekarang, kendati demikian keadaan seperti itu tidak
membuat Sukardi putus asa dan mengeluh, dia selalu giat bekerja dan menjunjung
tinggi kejujuran, walaupun penghasilannya tidak menentu dan serba kekurangan, Sukardi
termasuk orang yang taat, dia tidak pernah absen dalam beribadah, dan juga
tidak pernah sekalipun mencuri barang milik orang lain (inilah integritas
yang harus dicontoh),bahkan ketika dia menemukan barang yang berharga disaat
memulung, sebelum di masukan kedalam kantong goni, dia selalu berusaha mencari
pemilik barang tersebut dengan cara bertanya kepada beberapa orang yang ia
temui, jika ada yang mengakui atau merasa kehilangan barang yang ditemukannya
itu, dengan rela dan senang hati Sukardi segera mengembalikannya tanpa
mengharapkan upah atas penemuan barang tersebut, walau terkadang dia tidak
mendapatkan uang sepeserpun setelah seharian bekerja keras, itu karena
barang-barang rongsokan yang ia kumpulkan tadi belum dibayar oleh pengepul, hal
demikian membuat Sukardi harus berpuasa menahan lapar dan dahaga sampai mendapat
upah dari pengepul,untuk membeli sebungkus nasi dan lauk seadanya.
Lengkaplah sudah penderitaan sukardi ketika sepulang dari mulung
mendapati beberapa orang berwajah garang dengan badan tegap bersiap menggusur
rumah kardus yang selama ini ia tempati.
“Pak Jangan PAK,” (Teriak Sukardi dengan suara sayup kepada
beberapa orang tersebut, sambil berlari medekati rumahnya dan memegangi
perutnya yang sakit karena lapar)
“Saya harus tinggal di mana jika rumah yang tidak berharga ini
bapak gusur, ini satu-satunya tempat melepas lelah bagi saya, saya ini orang
kecil, tidak punya uang untuk sewa tempat, ini satu-satunya tempat saya berlindung
dari dinginnya malam, dan panasnya mentari siang pak” lanjut Sukardi
Dengan sigap dan sedikit bicara, mereka langsung menghancurkan
gubuk milik Sukardi tanpa memikirkan bagaimana nasib sukardi setelah tempat
tinggalnya mereka hancurkan.
“Minggir-minggir tanah ini mau di bangun, saya hanya menjalankan
tugas” (kata salah satu dari orang
tersebut,dengan wajah garang dan mata melotot sambil mendorong sukardi untuk pergi dari lokasi)
Dengan wajah memerah dan mata berlinang air mata, Sukardi terus
memohon kepada orang-orang itu, tetapi apa daya Sukardi hanyalah orang lemah
yang hidup di tengah kapitalisme, Dia tidak mempunyai kekutan untuk menggagalkan
niat orang-orang tersebut, jangankan untuk menghalangi-halangi, untuk berteriak
saja dia hanya memanfaatkan kekuatan yang masih tersisa, ditambah perutnya yang
begitu perih seolah di tusuk-tusuk dengan jarum akibat dari seharian belum
makan. Dengan penuh kebimbangan dan kegelisahan dia bergegas untuk mengemasi
barang-barang yang masih bisa diselamatkan kemudian dimasukannya kedalam
kantong goni yang selama ini menemaninya dalam suka maupun duka, maklum hanya
kantung itulah yang selama ini menemani Sukardi kemanapun dia pergi.
“Ya tuhan cobaan apalagi yang engkau berikan, apakah hambamu ini
sanggup melewati cobaan ini, kuatkanlah keimanan hambamu ini ya Tuhan” (bisik
Sukrdi Dalam Hati)
“Duh kemana lagi aku harus mencari tempat melepas lelah” (ucap
Sukardi lirih, dengan wajah kebingungan, seolah – olah dia tidak percaya kalau
hal ini akan terjadi)
Bibirnya yang kering itu selalu digunakan untuk berkomat-kamit,
tetapi bukan mengumpat melainkan berdoa kepada Tuhan supaya tetap diberi
kesabaran, seolah-olah menggambarkan betapa tegarnya Sukardi pada waktu itu di
tambah wajahnya yang pucat dengan jalan yang tertatih tatih sambil memegangi
perutnya yang sakit karena lapar, melengkapi pendiritaannya kali ini, dengan
membawa kantung goni perlahan dia meninggalkan tempat yang sudah selama puluhan
taun dia tempati, Saat ini yang tersisa hanyalah asa, dan sepotong kartu tanda
penduduk yang nantinya akan dia gunakan untuk mengikuti pesta demokrasi di
negara tercinta ini, tidak ada barang berharga tersisa kecuali 3 baju compang
camping yang biasa sehari-hari dia gunakan untuk memulung. Sukardi terus
berjalan lontang-lantung tanpa tujuan, untuk mengisi tenaganya dia hanya minum
air kran sewaktu dia berwudhu untuk sholat, perutnya di ganjal dengan batu
kerikil untuk mengurangi rasa sakitnya, sampai pada akhirnya dia menemukan
sebuah rumah megah dengan tembok di cat kuning kemilauan di dalamnya berjajar puluhan mobil yang di
jaga oleh puluhan satpam dengan tubuh yang gagah-gagah, melihat hal tersebut
membuat Sukardi terkagum-kagum. Rumah itu terus saja di pandangi Sukardi hingga
beberapa saat,
“ Wah bagusnya ini rumah, kapan ya aku punya rumah sebagus ini,
Ah... jangankan mikir beli rumah untuk makan saja susah, jangan ngimpi
ketinggian deh, (besit sukardi dalam hati sambil berjalan pergi menjauhi rumah
tersebut)
Ketika dia hendak berjalan beberapa langkah untuk meninggalkan
rumah itu, tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggilnya
“Pak-pak tunggu (teriak seorang wanita memanggil Sukardi dengan
sopan,sambil keluar dari rumah yang dipandangi Sukardi tadi)
Sontak sukardi kaget dan kebingungan, sambil menoleh kanan kiri
mencari dimana sumber suara yang memanggilnya tadi, sukardi menjawab :
“ iya bu, ibu memanggil saya?” (jawab Sukardi dengan penuh
keraguan, dan kebingungan)
“iya pak, tunggu sebentar saya tak kesitu”, jawab wanita itu, dari
balik tingginya pagar tembok yang luar biasa kokoh)
“Oh iya bu, (jawab
sukardi)
“grreeeeeeeeeeeeeeeeekkkk” suara
pintu gerbang rumah tersebut terbuka, terlihat seorang satpam gagah sedang
membukakan pintu, untuk wanita itu,
“sudah lama pak nunggunya?” (tanya wanita itu)
“belum kok bu, ada perlu apa kok memanggil saya? (jawab Sukardi
sambil bertanya balik kepada wanita itu, dalam hati Sukardi merasa kenal dengan
wanita itu)
“ ini pak saya ada sedikit rejeki untuk bapak, mohon diterima, saya
rasa bapak sangat membutuhkan ini,” (jawab perempuan itu sambil memberikan
amplop kepada Sukardi yang didalamnya sudah di isi himbauan untuk memilih
dirinya,)
Tanpa berfikir panjang sukardi langsung menerima amplop tersebut,
sambil berkata
“oh Ya Tuhan.... terima kasih bu, terimakasih sekali, saya
memang benar-benar lagi membutuhkan ini untuk membeli makan,”, dia memang
sangat membutuhkan uang untuk memenuhi tuntutan perutnya yang sudah sekian lama
tidak merasakan nikmatnya nasi.
“ Saya permisi
dulu ya pak, masih banyak pekerjaan” (kata wanita tersebut)
“iya bu, terimakasih atas bantuannya, semoga ibu segera diberi
balasan yang setimpal dari Tuhan” (jawab sukardi dengan muka yang kegirangan,
“alhamdulillah saya akhirnya bisa makan juga setelah beberpa hari tidak
mersakan nasi, ucap Sukardi dalam hati)
“ Dasar pengemis, kamu
itu saya manfaatkan supaya memilih saya menjadi anggota legislatif, orang-orang
seperti kamu itu sasaran empuk untuk meraih suara, hahahahaha pasti pencitran
saya menjadi baik, secara saya kelihatan seperti orang dermawan, 5 tahun yang lalu
saya juga seperti ini, saya mendatangi mereka, saya sebarkan janji dan ah...
yang pentingkan mereka tertarik untuk memilih saya realisasinya masa bodoh dong”
(bisik perempuan itu dalam hati sambil berjalan memasuki gerbang rumahnya yang
kokoh itu,)
Setelah memberikan
amplop tadi, Sambil menyembunyikan rasa jijikannya pada Sukardi, wanita itu
bergegas untuk masuk kedalam rumah,, Sukardi memang terlihat sangat kumal setelah
beberapa hari tidak mandi sejak rumah yang ia tempati digusur, dia tidak mandi bukan
karena malas, tetapi karena benar-benar tidak menemukan tempat yang menurut dia
bisa di gunakan untuk mandi, maklum sekarang ini jaman yang penuh dengan
komersialisme dan pragmatisme, toilet saja banyak yang di sewakan, sedang
tempat yang ia gunakan sehari-hari untuk MCK juga ikut digusur bersama rumah
itu, mencari tempat gratisan untuk mandi memang benar-benar susah, kalaupun ada
paling ditempat-tempat ibadah, Sukardi sendiri pun sungkan kalau harus
mengotori tempat ibadah untuk mandi, paling-paling kalau menemukan Masjid dia
hanya mampir sembayang atau minum untuk mengisi energinya, itupun sekarang
jarang di temui, yang dia temui sepanjang perjalan dalam mencari tempat
berteduh hanyalah bangunan – bangunan kokoh yang megah, tempat dimana orang
berbelanja, bersenang - senang melupakan masalah dunia, serta ada juga tempat
para koruptor menghambur-hamburkan uang rakyat untuk kepentingan pribadinya.setelah
berjalan seharian akhirnya dia menemukan sebuah gubuk tidak terpakai di tepi
sungai yang dulu biasa digunakan oleh warga untuk memantau ketinggian air
sungai, tetapi karena para warga sudah di relokasi ke lokasi yang lebih aman ,
maka gubuk itu sekarang sudah tidak digunakan lagi dan terbengkelai. Lokasi
tersebut kini telah menjadi TPU (tempat pembuangan umum), tanpa berfikir
panjang,Sukardi langsung memutuskan untuk tinggal di gubug tersebut. Dia
bergegas membereskan gubuk tersebut dari debu, mencari kardus atau benda lain
di tumpukan sampah dekat gubuk yang ia temukan itu untuk memperbaiki atab gubuk
yang rusak, “ah cukup nyaman, akhirnya selesai juga, Alhamdulillah ya Tuhan,
saya sudah tidak tidur di tepi jalan lagi hari ini” (ucap syukur Sukardi
dengan penuh ketulusan kepada Tuhan), Tak begitu lama Adzan magrib
berkumandang, Sukardi bergegas ke sungai tepat di depan gubuknya untuk
berwudhu,dan menunaikan sholat magrib, tidak lupa setelah sholat magrib dia
selalu berdoa, dan bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh tuhan kepadanya
setiap hari,
Setelah selesai
beribadah, Sukardi tersadar akan sebuah amplop pemberian dari seorang wanita
kaya raya tadi, tanpa berfikir panjang dan dengan cepat dia mencari amplop itu,
karena rasa penasarannya yang tak terbendung lagi, di bukalah amplop itu oleh
Sukardi, ternyata berisi uang Rp 50.000,00 dan di balik uang tersebut terdapat
secarik kertas yang berisi foto wanita itu, juga terdapat tulisan pnjang di
balik foto tersebut “mohon doa restu, saya calon anggota legislatif partai
XXX, dengan nomor B115, ingin mengajukan diri kembali pada pesta demokrasi 2025
ini, Amanah anda adalah tanggung jawab kami, jujur dan bebas korupsi adalah
moto saya”, Sukardi tak henti-hentinya memandangi foto wanita tersebut,
seolah-olah dia sedang berusaha keras mereview ingatannya yang lama, Al hasil
dia ingat perempuan itu siapa, waktu itu, dia bertemu dengan wanita tadi di
gubuk kardusnya 5 tahun yang lalu, wanita tadi berjanji kepada Sukardi untuk
memperhatikan nasibnya dan mengobati kedua anak kembarnya yang kala itu sedang
menderita penyakit busung lapar ketika kelak dia terpilih menjadi anggota
legislatif, besar harapan Sukardi waktu itu pada penepatan janji wanita itu,
tapi apa kata takdir wanita tersebut tak kunjung kembali menemui Sukardi dan
merealisasikan janjinya itu.Sukardi kala itu kecewa berat tapi apa daya dia
hanya rakyat kecil yang diperdaya untuk mensukseskan ambisi para kaum penguasa,
dia hanya sebagai target operasi politik yang sedang berkecamuk di negrinya
ini, maklum taun ini kan taun politik,sebagian politikus sedang sok-sok an dekat
dengan rakyat, mereka lupa amanah yang diberikan oleh rakyat, mereka malah
sibuk ngurus pencalonannya kembali diakhir periodenya bekerja sebagai pemegang
amanah rakyat, bagaimanapun caranya mereka harus terpilih kembali walaupun beberapa diantaranya harus berubah menjadi orng YANG MUNAFIK.
*******
Bersambung..........